h1

The power of Community in Business, Real or Unreal??

November 10, 2007

Aku baru saja membaca majalah SWA dengan topik utama mengenai Community Marketing. Sebuah ulasan yang unik dan menarik mengenai perkembangan pemasaran sebuah produk usaha dengan memanfaatkan sebuah komunitas. Bentuk nyata dari perkembangan ini adalah Nokia Communicator Community (CC), komunitas pencinta Harley Davidson, kemudian Komunitas Honda Vario, dll. Memang, dalam sebuah aturan perdagangan, produk pasti mengedalikan dengan konsumen karena produk memang diciptakan untuk konsumen. Namun, kini perkembangan teknologi yang semakin pesat membuat konsumen sendiri yang kini menentukan produk apa yang mereka inginkan. Hal ini mendorong mereka untuk melakukan pengembangan terhadap produk yang telah ada bersama orang-orang yang memiliki visi sejenis. Sehingga akhirnya terbentuk suatu komunitas. Komunitas ini nantinya akan membuat pembuat prodduk mengetahui seperti apa kelemahan dari produk, sisi apa yang layak dikembangkan dari produk, dan tentunya pembeli setia dari produk.

Meskipun begitu, trend kehidupan yang semakin tidak menentu juga membuat seseorang cenderung untuk berkelompok. Jika dahulu seseorang mencari gengsi dengan menggunakan produk mahal, impor, atau eksklusif, kini hal tersebut sulit sekali untuk dilakukan. Hal ini disebabkan meningkatnya taraf kesejahteraan, dan pendidikan masyarakat Indonesia serta berkembangnya teknologi. Untuk mencari pelarian dari sebuah status bernama gengsi tersebut, masyarakat kini cenderung untuk membentuk sebuah komunitas yang berguna untuk sharing bersama orang-orang yang memiliki minat yang sama. Dengan bergabung pada komunitas tersebut, orang-orang tertentu akan merasakan meningkatnya derajat gengsi mereka di mata masyarakat. Trend sosial kini telah berubah, jika dahulu kekayaan lebih dipandang sebagai sebuah derajat, kini status lebih diutamakan sebagai sebuah derajat. Orang yang miskin sekalipun akan lebih dipandang jika ia merupakan kenalan presiden, atau seorang yang mempunyai image yang luar biasa di mata masyarakat.

Nah, kembali ke hal Community Marketing, apa sih sebenarnya keuntungan dari pola marketing yang memanfaatkan kecenderungan masyarakat berkomunitas? Menurutku, pola marketing ini sangat bermanfaat bagi produk-produk yang menonjolkan sisi emosional terhadap pelanggannya. Perhatikan hape komunikator dari Nokia, begitu jelas bahwa hape tersebut memberikan sisi emosional kepada penggunanya. Melalui fitur-fitur yang terdapat di dalamnya, para eksekutif dan pebisnis akan merasa sangat terbantu sekali apabila biasa memanfaatkannya. Mungkin seorang pengguna komunikator akan merasa “sakau” apabila seharian meninggalkan komunikatornya. Ingin memanfaatkan pemasaran menggunakan komunitas?? Tonjolkanlah sisi emosional dari produk anda.

Selain berperan dalam pengembangan produk dan penjualan perusahaan, komunitas juga berperan untuk meningkatkan brand image di mata masyarakat. Apalagi bila komunitas tersebut memiliki reputasi yang mentereng di mata masyarakat. Apabila brand image meningkat, maka produk tersebut memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk mengalami peningkatan volume penjualan. Tentunya ini berimbas pada volume penjualan perusahaan. Sayangnya, hal ini tak begitu diperhatikan oleh pelaku bisnis. Banyak yang berkata, dampak komunitas tidak begitu dirasakan oleh sebuah produk. Bahkan ada yang beranggapan komunitas bahkan cenderung menurunkan nilai sebuah perusahaan karena tingginya kemungkinan untuk melakukan tindakan yang mencoreng reputasi perusahaan. Yah.. Komunitas itu seperti kekasih, apabila kita menyayangi dan mencintai mereka, dan mereka menyadari itu, maka mereka akan memberikan hal yang serupa terhadap kita. Imbasnya peningkatan volume penjualan. Masalahnya, kebanyakan kita tidak menyayangi kekasih kita, atau kekasih kita tidak mengetahui bahwa kita mencintai dirinya, akhirnya mereka malah melakukan tindakan yang menyakiti hati kita. Seperti itulah komunitas..

Nah, apakah sebuah komunitas dirasa nyata pada dunia bisnis? Jawabnya tentu saja iya. Tetapi apakah manfaat komunitas tersebut dirasa nyata pada dunia bisnis? Masing-masing pelaku bisnis pasti punya jawaban yang berbeda-beda..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: