h1

Sepakbola, Bisnis, dan Kekuasaan

November 3, 2007

_41749848_frankfurt_becks.jpg

Sepertinya seluruh masyarakat di seluruh dunia telah mengenal sebuah olahraga menggunakan kulit bundar bernama sepakbola. Tidak bisa disangkal bahwa sepakbola telah menjadi hal yang wajib diketahui oleh masyarakat di seluruh dunia. Sepakbola yang mulai dimainkan secara terformat sejak periode awal abad 20, kini telah sebegitu populernya sehingga baik laki-laki atau perempuan menjadi penikmat olahraga ini.

Perkembangan sepakbola membuat banyak elemen di sekitarnya ikut berkembang. Mulai dari pemain. Pada awal masa periode permainan sepakbola, olahraga ini hanya dianggap sebagai sebuah hobi dan kesenangan belaka. Pada tahun 1930, kompetisi sepakbola antar negara di seluruh dunia yang pertama diadakan. Pada masa ini, sepakbola mulai dianggap sebagai sebuah olahraga yang memberikan manfaat bagi pemainnya, baik dalam hal kesehatan maupun presetise. Berbagai negara yang telah mengenal sepakbola muali berlomba untuk membangun tim sepakbola yang kuat. Setelah sepakbola di seluruh dunia berkembang dan meluas, dibentuklah badan sepakbola negara yang mengatur persepakbolaan di seluruh dunia. Dikarenakan meningkatnya nilai profesionalisme, pemain sepakbola yang berkualitas dari berbagai penjuru dunia menjadi bermunculan. Mulai dari Giuseppe Meazza, Pele, Just Fontaine, Franz Beckenbauer, Johan Cruijff, Mario Kempes, kemudian the one and only “Diego Armando Maradona”.

Peningkatan kualitas persepakbolaan ini membuat aturan sepakbola menjadi semakin baik dan masyarakat semakin mencintai sepakbola. Hingga pada puncaknya, dimulai dari periode 80-90an, Sepakbola dianggap menjadi salah kepercayaan bagi masyarakat Italia. Penduduk Italia menjadikan sepakbola sebagai hal yang ditaati nomer 2 setelah agama. Namun, kemajuan pesat dari dunia sepakbola tidak membuat sepakbola terlepas dari masalah-masalah. Mulai dari mafia wasit, kerusuhan antar suporter, judi sepakbola, rasisme, dan penggunaan doping oleh pemain sepakbola. Namun seiring berjalannya waktu, Sepakbola mampu membuat masalah-masalah tersebut menjadi terkendali. Masalah tersebut tidak pernah hilang, hanya saja menjadi bumbu penyedap bagi sepekbola.

Perkembangan yang pesat dari sepakbola membuat mata para taipan-taipan dunia untuk membangun kerajaan bisnis sepakbola. Dimulai dari pembelian pemain dunia seperti Denilson, Ronaldo, Zinedine Zidane, Gianluigi Buffon, dll dengan harga yang bisa menghidupi satu kampung membuat nilai dari sepakbola meningkat drastis. Dilanjutkan dengan pembelian klub-klub langganan juara macam Manchester United, Chelsea, Liverpool, dll oleh para miliuner-miliuner kelas kakap. Hingga puncak dari hegemoni bisnis yaitu seorang megastar sepakbola bernama ‘David Beckham’ yang menjadikan dirinya sebagai aset paling berharga bagi dunai sepakbola. Baik sisi permainannya, maupun sisi bisnis. Dari sisi permainan, pemain ini telah memberikan kontribusi bagi dunia. Mungkin banyak pemain yang mampu mengalahkan keakuratan tendangan bebasnya, dribblenya, passingnya, headingnya, ataupun segala kemampuan sepakbola yang dimilkinya. Meskipun begitu, ia tetap berjuang keras dan memberikan kontribusi terbaik yang bisa diberikannya. Hingga seorang pelatih sekelas Fabio Capello pernah berkata dengan redaksi “keputusan terbodoh yang saya ambil dalam periode kepelatihan saya adalah menyetujui melepas David Beckham dari Real Madrid.”, ia juga bilang “Saat ini Beckham telah kembali ke bentuk permainannya seperti saat muda dulu, jika ia telah mencapai fase ini maka takkan ada pemain yang bisa menghentikannya.” Kemudian, pelatih yang membesarkan namanya yaitu Alex Ferguson sempat berucap (kira2 redaksinya) “Saya menyesal dahulu menjual David Beckham dari Man.U, andai ia dulu tidak terlalu sibuk dengan dunia keartisannya, dia pasti akan menjadi legenda Man.U”. Seorang George Best juga menyayangkan kepergian David Beckham, “Man.U telah melakukan keputusan yang keliru. Setidaknya untuk 3 tahun ke depan, mereka akan kesulitan untuk unggul di saat-saat akhir melalui kesempatan tendangan bebas, atau corner kick.”

Sementara dari sisi bisnis, David Beckham adalah aset yang telah telah memutarkan uang lebih dari 1 triliun poundsterling atas segala komoditas bisnis yang menggunakan brandnya. Bukti sukses keberadaan dirinya dari sisi bisnis adalah, meningkatnya pemasukan tahunan dari klub yang pernah dibelanya. Hingga akhirnya ke dua klub tersebut menduduki posisi klub terkaya di dunia ketika ia membela klub tersebut, yaitu Manchester United, dan Real Madrid. Terbukti pendapatan masing-masing klub menurun drastis karena penjualan dirinya. Untuk Manchester United butuh waktu 2-3 tahun untuk kembali meningkatkan pemasukan kasnya.

Diangkatnya David Beckham sebagai ikon bisnis sepakbola, semakin menegaskan bahwa sepakbola semakin menancapkan kukunya di dunia perbisnisan. Bukan tidak mungkin suatu saat nanti orang terkaya di dunia berasal dari lingkungan bisnis persepakbolaan. Hanya saja selalu ada efek samping. Yang namanya bisnis, entah kenapa selalu saja beriringan dengan yang namanya kekuasaan. Dimulai dari pemanfaatan sepakbola sebagai ajang untuk mencari popularitas seperti yang pernah dilakukan mantan PM Italia Silvio Berlusconi, atau mafia wasit yang melibatkan Juventus atas tindakan yang dilakukan wakil presiden klub untuk membayar wasit dalam rangka mengatur hasil akhir pertandingan agar Juventus tetap berkuasa di singgasana tampuk kekuasaan tertinggi di dunia Sepakbola.

Kasus sejenis kini tengah menimpa lingkungan PSSI. Ketua Umum PSSI yang bernama Nurdin Halid hingga kini masih belum mau meninggalkan bangku tertinggi di PSSI, padahal ia terjerat banyak pelanggaran aturan yang membuatnya tidak layak lagi menduduki jabatan ketua umum PSSI. Bahkan Wakil Presiden R.I Jusuf Kalla sampai menyuruhnya untuk berhenti dari jabatan ketua umum, ia masih saja enggan. Entah apa alasan Nurdin, yang jelas ini telah menjadi salah satu efek dari kemajuan sepakbola. Sepakbola yang dulunya hanya sebuah permainan rakyat, kemudian berevolusi menjadi bisnis akankah berevolusi menjadi ajang mencari tampuk kekuasaan dan popularitas? Sepakbola telah merasakan dampak perubahan paradigma menjadi paradigma bisnis,
apakah revolusi sepakbola menjadi sebuah tampuk kekuasaan akan menjadikan sepakbola seperti sebuah negara?? Seperti apakah dampak yang ditimbulkannya?? Let’s wait n see..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: