h1

Tips membeli buku bacaan yang berkualitas

June 30, 2007

Beberapa waktu yang lalu aku ditanyakan mengenai hal ini oleh teman baikku… Kalau dia ngebaca blog ini semoga bisa jadi manfaat buat dia dan pembaca blog (nb : tips ini tidak teruji secara ilmiah, hanya teruji berdasar pengalaman).

1. Sampul mencerminkan isi. Di belahan dunia manapun, yang terlihat pertamalah yang biasanya menjadi dasar utama seseorang dalam menilai. Kalo mencari pacar hampir seluruh manusia selalu melihat penampilan sebagai yang utama untuk menilai seseorang. Begitu juga dengan buku. Buku2 yang bersifat “pengantar tidur” biasanya didesain simpel, bernuansa kotak2 (entah kenapa segala yang membosankan identik dengan imej kotak2), dan di sampul menggunakan jenis kertas tertentu. Buku-buku yang bernuansa kekanak-kanakan biasanya lebih menonjolkan gambar daripada judulnya.

2. Perhatikan penerbit dan penulis. Meskipun terkesan kuno tetapi terdapat sisi benar dari pepatah “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”. Biasanya buku karangan penulis ‘best seller’ dari penerbit terkenal memang lebih enak dibaca, kecuali kita memiliki selera membaca yang berbeda dari kebanyakan orang.

3. Buku lokal cenderung asal ditulis dan bertujuan untuk kebutuhan bisnis semata, kebanyakan buku impor lebih berkualitas daripada buku lokal. Ini adalah hal yang sangat nyata! Kebanyakan penulis lokal masih belum memiliki tata bahasa yang baik dan sesuai dengan mata pembaca. Banyak sekali tulisan penulis lokal memiliki arti yang “ambigu”, tidak bertujuan, dan melakukan pemborosan kata. Penulis impor biasanya mampu mengemas kata-katanya seolah mereka berbicara dengan pembaca.

4. Buku berkualitas tidak mencampurkan tulisan-tulisan buku lain. Maksudnya, buku berkualitas biasanya hanya mencantumkan buku/tulisan lain sebatas referensi untuk pembaca. Aku sangat sering menemukan buku-buku yang seisi tulisannya mencantumkan redaksi kalimat seperti berikut : “berdasarkan penjelasan ……” dan redaksi ini tidak hanya satu dua kali, tetapi berkali-berkali dalam satu sub judul. Biasanya hal ini dilakukan oleh para penulis lokal (bahkan beberapa penulis best seller lokal sering melakukan hal ini lo…!)

5. Belilah buku yang sesuai dengan pilihan anda. Memang terlihat klise, tetapi ini tetap menjadi prioritas utama kita dalam menentukan buku yang akan di beli. Alangkah lebih baik kalau sebelum membeli buku kita telah mengetahui review dari buku tersebut, apakah dari koran, majalah, internet, atau rekomendasi dari seseorang. Membeli buku yang sama sekali belum kita ketahui latar belakangnya terkadang akan membuat kita menyesali keputusan kita membeli buku tersebut. Meskipun, ada kepuasan tersendiri apabila kita membeli buku tanpa mengetahui isi sebenarnya dari buku tersebut.

Ini nih tips yang bisa kita manfaatkan.. Sebenarnya hal utama yang terkandung dari tips ini adalah gunakan intuisi dalam menentukan buku yang ingin dibeli. Tips ini hanyalah penjelasan yang telah di-metodekan dalam membeli suatu buku.

5 comments

  1. Saya mencoba memberi masukan untuk poin 1, 2, dan 3. Kebetulan saya praktisi dunia penerbitan sejak tahun 2004.
    1. Anda bilang “Sampul Mencerminkan Isi”. Di sini anda terjebak pada analogi terbalik dari praktisi dunia penerbitan yang pertimbangan utamanya adalah “BISNIS”. Penerbitan yang ada sekarang, mayorita mempercantik tampilan, tapi coba teliti isinya. BANYAK NGAWURNYA! SEMUA HANYA “SUPAYA DIBELI” URUSAN BERKUALITAS ATAU JELEK, YANG PENTING ORANG BELI. Untuk itu, mereka mempercantik tampilan sebagus mungkin. Coba Anda lihat penerbit buku-buku Islam Indonesia. Mereka sudah terjangkiti penyakit, “CAri untuk GEde dengan Penampilan Keren”.
    2. Perhatikan penerbit dan penulis. Ini ungkapan yang mempertahankan status Quo. Tidak semua penulis buku yang pernah laris, selamanya tulisan mereka bagus. Orang lebih banyak terjebak figuritas. Lihat buku “Di atas Sajadah Cinta”, itu kumpulan cerita yang comot-comot dari kisah-kisah teladan penuh hikmah yang sudah banyak terbit di Indonesia. Tapi Penulisnya, Habiburrahman El-Shirazy, penulis Novel terkenal Ayat-ayat Cinta. Tetapi dalam kasus, “Di atas Sajadah Cinta”, isinya hanya kisah-kisah yang dicomot-comot dari banyak kisah lain.
    3. Anda mengatakan bahwa buku lokal cenderung asal ditulis. Tetapi saya mengatakan, Buku Asing cenderung Asal diterjemah. Kalau anda tahu siapa yang menerjemahkan buku-buku tersebut Anda pasti tercengang. Ironisnya, dunia buku kita lebih banyak mengenal penulis dari pada penerjemah.
    LIhat buku-buku terjemahan dari Timur Tengah, Anda akan mendapatkan satu buku diterbitkan oleh banyak penerbit, sudah pasti sangat tidak kondusif untuk persaingan bisnis yang sehat. DAn, yang menerjemahkan adalah kebanyakan mahasiswa Indonesia yang kuliah di Kairo dan Timur Tengah, dan belum SArjana, mereka cari penghasilan tambahan untuk biaya kuliah. Bisa Anda bayangkan bagaimana kualitasnya. Padahal keseharian, mereka juga lebih banyak ngobrol pake bahasa Jawa atau Indonesia daripada pake bahasa ARab, meski mereka kuliah di negeri Arab.
    Bisa jadi penulisnya adalah seorang tokoh besar, tetapi diterjemahkan oleh seseorang yang tidak memiliki kapasitas intelektual yang sesuai dengan buku yang diterjemahkannya.
    Jadi, aku saranin, jangan tertipu penampilan, karena penampilan lebih sering menipu….


  2. Makasih banyak mas atas masukannya.. Beberapa saya setuju (saya akui keterbatasan ilmu saya), beberapa ada yang kurang saya setujui. Nomer 3 itu bener banget mas.. Tapi kita harus akui, kalau seandainya di beberapa buku bacaan (saya sering temui di buku-buku bertema manajemen, pengembangan diri, dan bisnis) para penulis lokal sangat sering menulis dengan bahasa yang kurang akrab di mata dibandingkan dengan penulis asing (dengan struktur bahasa inggris tentunya). Namun, sering sekali juga tulisan penulis luar itu tidak diterjemahkan dengan bahasa yang sesuai.
    Untuk comment nomer 2, saya bingung harus setuju atau tidak. Untuk urusan yang itu saya menggunakan teori probabilitas. Penerbit dan pengarang buku yang terkenal kan berhasil menulis buku yang berkualitas, tentunya probabilitas mereka untuk membuat buku yang baik lebih tinggi. Walaupun tidak tertutup kemungkinan ada sample error (seperti contoh yang anda sebutkan).
    Nah, untuk nomer 1 ini yang saya mesti koreksi. Menurut saya sampul itu adalah salah satu metode marketing yang dilakukan para penerbit dan penulis buku. Dari sampul itu tentu terlihat keseriusan mereka ingin diarahkan ke segmen pasar mana buku itu, seperti apa ide yang diangkat buku itu, dan apa yang menjadi daya tarik buku tersebut. Pada hal ini saya menggunakan landasan berpikir sebuah produk bisnis. Jadi kalo produknya bagus, tentu mereka harus mengemas dengan baik produk tersebut agar diterima di pasar (saya percaya kebanyakan buku yang berkualitas dikemas dengan berkualitas juga, banyak contohnya dan saya yakin tidak perlu disebutkan karena anda bisa melakukan penelitian sendiri).
    Yah, tapi saya kurang tahu untuk buku-buku islami karena saya tergolong jarang memperhatikan buku islami. Saya lebih cenderung membaca buku-buku bisnis, engineering, dan personal development, fiksi (komik dan novel), sains, dan politik. Ini bukan karena kurangnya ketertarikan saya terhadap buku keislaman, tetapi disebabkan karena ketika saya membaca buku-buku islami, saya sering menemukan tulisan dengan dalil yang tidak kuat dan acapkali tidak logis. Yah, saya tidak mengerti apakah dikarenakan kapasitas si penulis atau hal-hal lainnya atau mungkin saya belum membaca buku islami yang mempunyai kualitas yang baik menurut saya. Salah satu buku islami yang membuat saya tertarik untuk membaca dan memahaminya adalah al-quran. Al-quran itu memiliki sampul yang menarik dan sesuai dengan isinya, kemudian gaya bahasanya begitu indah, ditulis oleh penerbit sang maha sempurna, dan universal, serta definitif (setiap goresan huruf di dalamnya mengandung makna).
    Makasih mas atas introspeksinya, hehehe…


  3. Mas farid, aku juga suka baca buku-buku teknik, khususnya berkaitan dengan masalah web design. Aku justru lebih suka membaca buku-buku karya teman-teman penulis lokal. Alasanku sederhana: Buku-buku terjemahan dari barat, materinya menurut aku “terlalu” lengkap, sehingga sesuatu yang sebenarnya sudah di luar kepala kita juga dimuat. Contoh: Buku karya penulis barat tentang penggunaan microsoft word, di situ ditulis dari cara membuat file baru, menyimpan, dan lain sebagainya. Kalau untuk orang yang belajar MS. Office dari nol mungkin bermanfaat, tetapi kalau untuk kita yang mencari “rahasia” lain dari Ms. Word, buku-buku seperti itu sangat tidak layak, karena mencakup apa yang sebenarnya “tidak kita butuhkan”. Jadi, tidak ada gunanya dibeli.
    Sementara buku-buku karya teman-teman penulis lokal, contohnya “Membangun WebStore dengan Joomla”, atau buku-buku teknis lainnya, sangat spesifik dan lebih sesuai dengan “kebutuhan” bila kita belum mengetahuinya.
    Kemudian, untuk tampilan desain cover, aku melihat itu relatif ya… Coba Anda bandingkan desain cover buku-buku barat, Anda akan menemukan Judul yang ditulis dengan huruf besar, terkadang hampir memenuhi halaman covernya. Mereka lebih menjual isi dari pada kulitnya… he he hee…


  4. Thank’s, but it seem’s like we use a different side of experiences. Yah, sebuah hal yang wajar kalo menurutku. Untuk kasus buku engineering, saya ambil kasus buku leon chua mengenai “electrical circuit” dan buku penulis lokal (maaf saya lupa nama pengarangnya) judulnya “dasar-dasar elektronika”. Sumpah, bukunya chua lebih gampang dimengerti karena langsung menuju ke point yang mau diajarkan dibanding buku “dasar-dasar elektronika” yang berputar-putar membahas filsafat, metodologis, baru ke praktek. Ini bukan cuma 1 sampel, tapi hampir seluruh jenis buku mengenai electrical engineering mengalami kasus seperti ini (buku tentang probabilitas dan statistika (sekali lagi maaf saya lupa nama pengarangnya), dll). Walau ada juga buku yang lebih nyaman dibaca ketika ditulis oleh penulis lokal.
    Sebenarnya contoh yang anda jelasakan sebelumnya belum representatif karena 1 dari sekian banyak buku engineering, walaupun contoh dari saya juga tidak representatif. Hehehe.. Makanya saya bilang, menurut saya sepertinya kita melihat dari sudut pandang yang berbeda.
    Ini bukan cuma dalam buku engineering loh, Saya mengambil contoh di buku mengenai “business plan”. Sepengetahuan saya, jarang sekali ada penulis lokal yang mampu mempersembahkan buku bagaimana cara menulis bisnis plan yang menarik dan gampang dimengerti serta tidak bertele-tele (bahkan buku bertema bagaimana cara membuat bisnis plan pun sangat jarang. Hehehe..). Hanya Freddy Rangkuti, penulis lokal, yang mampu menyajikan pokok bahasan ini secara menarik, men-detail, dan gampang dimengerti.
    Sementara untuk penulis luar, banyak sekali penulis dengan gaya penulis dan sudut pandang yang berbeda membawakan buku bertema bagaimana cara membuat suatu bisnis plan. Linda Prinson adalah salah satu penulis luar yang menurut saya mampu mengarang buku tentang tema mengenai “business plan” dengan simpel dan apik.
    Aku menghargai pendapat anda. Tapi sepertinya kita melihat pada sesuatu yang berbeda. Aniway, thanks buat komentarnya. Ini membuat pengetahuan saya mengenai buku lokal yang berkualitas menjadi bertambah.
    Sejujurnya saya menyukai hasil karya penulis lokal karena lebih gampang dimengerti (hehehe.. maklum bahasa inggris saya kacau..), tapi sejujurnya juga banyak sekali karya lokal yang dibuat secara asal. Tidak melihat sisi estetika suatu tulisan, tata bahasa, dan desain yang menarik, serta nilai jual dari sisi bisnisnya. Ketika saya mengkritik salah seorang penulis lokal, ia berkilah dengan seribu satu bahasa (ga perlu saya sebutlah namanya). Saya rasa kritik itu bermanfaat, apalagi kalo positif dan bersifat membangun. Hal itu, semakin membuat saya malas untuk menikmati buku-buku penulis lokal. Namun disini saya mencoba menulis tanpa melebih-lebihkan (sisi subjektif tetep ada donk,, namanya juga blog.. hehehe..)
    Sekali lagi, terima kasih atas komentar dan koreksi anda. Semoga semakin buku berkualitas yang bisa kita nikmati di masa selanjutnya.


  5. Aku juga senang discuss sama mas farid nih. Pengetahuanku jadi bertambah karena kita mempunyai minat pada disiplin ilmu yang berbeda. Kita memang mempunya sudut pandang yang berbeda. Tapi artikel dan komentar-komentar Anda bagus. Pengetahuan saya jadi bertambah karenanya. Thanks…



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: