Archive for November, 2007

h1

Kampanye aneh ala “Stop Global Warming”

November 30, 2007

Aku sadar bahaya akan global warming, dan dampaknya udah dirasain banget.. Berbagai kampanye telah dilakukan pemerintah dan aktivis lingkungan (terutama MTV tuh yang getol kampanye). Yakin ini akan berhasil??.. Aku ragu..

Perhatikan metode kampanye yang mereka lakukan. Terlalu bodoh menurutku!! Apalagi yang dilakukan MTV. Mereka hanya berkata “stop global warming”, “stop global warming”, tapi tindakan nyata untuk menghentikan global warming apa?? Kampanye yang dilakukan ini seolah sebuah slogan tanpa solusi.. Emang cukup dengan bilang “stop global warming” masalah global warming akan selesai?? Itu hanya menimbulkan slogan kosong yang digunakan sebagai simbol kepedulian. Ga ada gunanya!!

Mohon pemerintah dan aktivis lingkungan untuk melakukan kampanye berbentuk aksi nyata yang bisa dilakukan masayarakat untuk menanggulangi pemanasan global. Maap kalo lancang, hingga saat ini aku (dan aku yakin hampir seluruh umat manusia yang hidup di bumi) sama sekali tidak mengetahui metode apa yang harus dilakukan untuk menanggulangi pemanasan global. Aku bingung mesti berbuat apa sementara dunia menjadi semakin panas (apalagi daerah tropis) dan resiko untuk menderita penyakit berkaitan dengan radiasi ultraviolet semakin meningkat.

Kalo begini, bisa” penjualan pakaian yang sopan akan semakin menurun dan penjualan pakaian” yang bernuansa minim akan semakin meningkat. Lama” manusia akan kembali ke jaman dimana mereka  sama sekali tidak menggunakan pakaian karena kepanasan. heheh..

h1

7 main weaknessess of Indonesian National Football Team

November 27, 2007

ina-team-celeb-001.jpgBecause of my blog reader request, i’ll rewrite my posting title “7 kelemahan utama timnas Indonesia” in english version. I hope you enjoy it..

5 monts ago, Indonesia was holding Asian Football Cup and showed a high class football quality. It makes Indonesia peoples proud about their national team’s. But now, it becoming very worst.. What’s wrong with Indonesia National team’s?

There’s 7 Indonesian Football team Weaknesses :

  1. Indonesian player has a very bad football basic skills. To prove it, watch a passing, shooting, and positioning Indonesian Player. Compare it with European, Latino, or maybe Japan and South Korean. I believe you will agree with me.
  2. There is no an opportunist striker with a high sense of creating goal’s. Actually, Indonesia has Bambang Pamungkas as a good striker. But, he’s not an opportunist striker like Ruud Van Nistelrooy, or Samuel Eto’o. He was more capable to play in 2 striker mode than 3 striker with 2 wings.
  3. League Quality was running too far than national team quality. Look at England National teams. Their league improved becoming the best league in the world. What is an effect? foreign player was booming, so the local player must be compete them. Finally, the local same quality player will be the other choice because business and popularity reason. It makes, local player chose to play in lower team and they can’t improve their skills nor lacks of international match event. It was happened in Indonesia Leagues too. Now, Indonesian leagues was becoming one of the best league in south east asia. It makes the same condition with england premier league. Club will get the foreign player with same quality (maybe better) with a lower price. Good player won’t improved and choose to play in lower club level. It think the solution is naturalization and send Indonesia player to foreign leagues (in more competitive leagues like european league or Japan/South korean league). Naturalization can improved national team quality, and foreign leagues can makes local player feel a good atmosphere competition and becoming a good player.
  4. The worst management of PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia).
  5. The worst regeneration of Indonesian football team. To analyze this reason, i have some fact. first, the frequency of football field in village was more than city. second, the air quality in village is more freshness than in city. From this fact, we can conclude that villagers has more probability to be a good football player than citizen. But why PSSI always try to seach a great player from city, not like the other sport?
  6. Indonesian player was playing with their body (physical contact), there’s not a genius player!! What is the carachteristic of genius player? They do a good decision, they can read the playing plot, and they combine logic and intuitive.  Paolo Maldini, Zinedine Zidane, David Beckham, Juan Roman Riquelme, Kaka, Fabio Cannavaro, Andrea Pirlo, Franc Ribery, Miroslav Klose, Shunsuke Nakamura, Younes Mahmoud, Franz Beckenbauer, Michel Platini, Johan Cruijff is a genius player. In indonesia, there is Widodo C.Putro, Fachri Husaini, or Bima Sakti who use their brain to play football. Now, this type of player was very rare..
  7. The worst of mentality.

What are you waiting for PSSI? Let’s make a changes!!

I’m sorry ’bout my bad english structure huehehe…

h1

Ternyata bangsa kita (tidak) payah..

November 24, 2007

Mengejutkan, membanggakan, dan menyenangkan. Kesan-kesan ini yang tersirat di benakku ketika mengetahui bahwa ternyata ada juga perusahaan dari Indonesia yang menjadi pemimpin pasar dunia bisnis. Kebenaran ini kudapat setelah membaca tabloid SWA edisi terbaru (22 Nov – 5 Des 2007).  PT.Hartindo mampu menunjukkan kualitasnya sebagai pemimpin pasar bisnis gas pemadam kebakaran di dunia, Ada juga tepung agar-agar swallow globe yang ternyata peringkat 2 di dunia bisnis tepung agar-agar, lalu ceres (dengan produk andalan silverqueen, coklat delfi yang diakuisisi oleh mereka) yang menjadi peringkat 3 pasar dunia coklat olahan. Not bad, bahkan bisa dibilang mantep! Sekedar informasi, nilai ekspor dari ceres adalah US$599,8 juta (periode kuartal 3 tahun ini) , kemudian volume ekspor dari swallow globe menyentuh angka 220 ton di dunia pada tahun 2006. Ini sebuah pencapaian yang cool banget!!

Ternyata di tengah carut marutnya regulasi dunia usaha di Indonesia, dimana peraturan daerah dan peraturan pemerintah acapkali bertentangan, ternyata ada pengusaha yang mampu lepas dari jeratan lingkungan yang tidak kondusif kemudian menjadi penguasa pasar global.  Acungan jempol untuk mereka (walau ada kemungkinan beberapa perusahaan melakukannya dengan cara yang tidak semestinya).

Beberapa trik dan kelihaian dilakukan oleh para pelaku usaha yang sukses secara global ini untuk mencapai tujuan mereka. Ceres misalnya, mereka memindahkan pabrik mereka ke Singapura untuk mendapatkan brand image yang positif di mata dunia. Kemudian PT.Hartanto mematenkan temuan mereka yaitu pemadam kebakaran yang ramah lingkungan (tidak menggunakan gas halon yang tidak ramah lingkungan) ke kantor hak paten di Inggris, dan trik-trik menarik lainnya.

Aku yakin pembaca majalah SWA edisi ini yang benar-benar meneliti, memahami, dan menghayati isi dari artikel mengenai bahasan perusahaan Indonesia yang berhasil menjadi pemimpin pasar global, pasti akan tergugah semangatnya untuk membangun usaha yang mampu menjadi pemimpin pasar dunia global. Yah, mereka saja bisa. Masa’ kita nggak?

h1

7 Kelamahan Utama Timnas Indonesia

November 21, 2007

Belum lama berlalu piala asia dari ingatan para pencinta sepakbola Indonesia. Saat itu, Indonesia menjadi tuan rumah dan menampilkan permainan yang luar biasa, serta membuat rakyat Indonesia bangga menyatakan bahwa mereka memiliki sebuah timnas sepakbola Indonesia. Namun setelah berselang 5 bulan, permainan timnas Indonesia langsung berubah menjadi seperti ayam sayur. Mengecewakan… Ada apa dengan timnas Indonesia?

Berikut kelemahan utama timnas Indonesia yang harus segera diperbaiki :

  1. Pemain Indonesia memiliki teknik dasar yang sangat buruk. Untuk membuktikan statement ini, perhatikan pergerakan, passing, shooting, dan positioning pemain Indonesia. Bandingkan dengan pemain dari negara Eropa, Amerika Latin, atau mungkin Jepang dan Korea Selatan. Aku yakin statement ini benar.
  2. Tidak ada striker pemiliki naluri mencetak gol yang tinggi. Sebetulnya Indonesia mempunya Bambang Pamungkas sebagai pemain yang tajam. Namun Bambang bukanlah tipe striker yang oportunis. Dengan gaya permainannya, Bambang lebih pantas berduet dengan 1 striker lagi dibanding menjadi penyerang tunggal ditopang 2 sayap.
  3. Kualitas liga yang tidak sebanding dengan kemajuan timnas Indonesia. Aku yakin bahwa ini adalah faktor yang sangat berpengaruh. Perhatikan Inggris. Liga mereka memiliki kemajuan yang sangat pesat sehingga kualitas liga meningkat tajam. Apa konsekuensinya? Pemain asing membludak sehingga pemain lokal yang memiliki kualitas yang sebanding dipinggirkan dengan alasan kepentingan bisnis, dan reputasi. Hal ini membuat pemain lokal tidak berkembang, dampaknya pun dirasakan oleh Timnas mereka. Jumlah pemain lokal berkualitas yang berkurang membuat timnas kesulitan mencari anggota timnya. Saat ini liga Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat, tapi hal ini membuat volume pemain asing membludak. Dengan kualitas yang lebih baik, harga yang relatif lebih murah untuk beberapa pemain, dan reputasi negara asal mereka yang bisa mendatangkan penonton tentu saja membuat pemain lokal sulit bersaing dengan mereka. Menurutku salah satu metode mengatasi permasalahan ini adalah menggunakan metode naturalisasi atau pembinaan pemain muda lokal di klub luar negeri. Naturalisasi akan menyeimbangkan kualitas sepakbola timnas Indonesia dengan kualitas Indonesia, sementara pembinaan pemain muda lokal di klub luar negeri akan menempa mereka untuk merasakan kerasnya atmosfer persepakbolaan di luar negeri yang tentunya juga akan meningkatkan kualitas timnas Indonesia.
  4. Organisasi tertinggi sepakbola yang manajemennya sungguh berantakan. Bagaimana mungkin pemain PSSI dibina oleh seorang yang memiliki dosa yang sangat banyak kepada banyak rakyat Indonesia? Yang namanya duit haram tetep aja haram walau ingin dicuci jadi duit baik. Sudah saatnya PSSI memprofesionalkan sepakbola Indonesia agar tidak harus selalu ditangani orang berduit yang hartanya belum tentu ‘bersih’.
  5. Sistem pembinaan pemain daerah yang sangat buruk. Pemain daerah adalah aset utama kemajuan sepakbola Indonesia. Mengapa begitu? Sekarang coba hitung berapa jumlah luas lahan sepakbola yang resmi maupun tidak resmi yang terdapat di kota-kota besar. Bandingkan dengan di daerah-daerah. Kemudian bandingkan iklim yang terdapat di kota dengan di daerah, selanjutnya bandingkan realitas sosial yang terdapat di kota dengan di daerah. Jauh berbeda bukan? Bukankah jelas sekali terlihat bahwa para penduduk daerah mempunyai potensi yang sangat besar untuk fokus di dunia sepakbola. Kenapa para penduduk di kota-kota besar yang dibina dengan serius? Bukankah udara di kota-kota besar itu kotor sehingga tidak baik untuk pembinaan sepakbola berlanjut? Selain itu, perhatikan kompetisi sepakbola Junior yang ada di Indonesia yang bisa dirasakan manfaatnya secara signifikan oleh masyarakat. Tidak ada kan? Piala Suratin atau Piala Medco hanya ditujukan untuk para klub yang telah eksis, kemudian kompetisi-kompetisi lainnya hanya diadakan untuk tujuan-tujuan oknum2 tertentu. Bagaimana bisa terjaring bakat2 berkualitas yang sesungguhnya di persepakbolaan Indonesia?
  6. Pemain tidak bermain menggunakan otak, hanya menggunakan badan. Apa ciri-ciri pemain yang bermain menggunakan otaknya? Mereka bermain dengan pertimbangan yang sangat matang. Mereka mampu menebak pergerakan rekannya atau lawannya. Mereka mampu membaca arah permainan. Keputusan yang dilakukan ketika bermain bola dilakukan atas gabungan unsur logis dan intuitif. Pemain sepakbola dengan spesifikasi ini adalah Paolo Maldini, Zinedine Zidane, David Beckham, Juan Roman Riquelme, Kaka, Fabio Cannavaro, Andrea Pirlo, Franc Ribery, Miroslav Klose, Shunsuke Nakamura, Younes Mahmoud, Franz Beckenbauer, Michel Platini, Johan Cruijff, dll. Apabila mengontrol bola, menjaga pemain, menendang, atau apapun itu, mereka selalu memikirkan cara terbaik untuk melakukan gerakan yang efisien, umpan yang matang dan terarah, tembakan yang keras dengan arah yang akurat dan membingungkan kiper ataupun bek lawan. Mereka tidak melakukan gocekan hanya untuk aksi tipu-menipu semata, ataupun bergaya di depan penonton. Mereka melakukan gocekan untuk melakukan tindakan yang harus mereka kerjakan di saat selanjutnya. Sayangnya, pemain Indonesia saat ini sangat jarang bermain menggunakan otaknya. Kalau dulu ada Fachri Husaini, Widodo C.Putro, Bima Sakti, atau Kurniawan yang biasa bermain seperti ini.
  7. Mental yang buruk. Yah, tidak perlu dijelaskan lagi kayaknya untuk yang ini. Kita udah terlalu lama dijajah dan malu mengakui kemampuan kita. Ketika bertemu dengan kaum yang terkesan lebih elit dibanding kita, pasti ada rasa minder yang menggelayuti. Lihat saja timnas Indonesia ketika menghadapi tim-tim arab, atau eropa, atau amerika latin, pasti umpannya banyak yang ga terarah, terus lebih sering bertahan dibanding menyerang, dan banyak kebobrokan lainnya. Tapi pas ketemu tim-tim dari afrika, atau rekan-rekan tetangga kita yang satu rumpun (Malaysia, Thailand, dll) kita pasti habis-habisan dan mati-matian tidak mau kalah.

Nunggu apalagi nih timnas? Ayo benahi kelemahan kalian!!

h1

Mana yang Mewakili Dirimu? Generalis atau Spesialis?

November 18, 2007

Business week edisi minggu pertama September 2007 mengupas hal yang menjadi trend baru dalam dunia bisnis dunia, yaitu pergeseran trend seorang pemimpin dari Generalis menjadi Spesialis. Business week menyebutkan bahwa pemimpin generalis kini sangat sulit ditemukan dan dunia bisnis saat ini lebih membutuhkan yang terbaik sebagai pilihannya. Terbukti bahwa saat ini perusahaan yang sukses dalam dunia usaha memiliki pemimpin yang berspesialis di bidang tertentu, apakah itu bidang teknis, bidang pemasaran, bidang financial, atau bidang pemberdayaan sumber daya manusianya.

Melalui artikel ini, logikaku terusik. Lalu bagaimana orang-orang yang bertipe generalis seperti diriku ini??

Untuk menyamakan persepsi, harus kujelaskan dahulu definisi generalis dan spesialis. Bagiku, generalis adalah orang memiliki kemampuan untuk menguasai pembelajaran secara menyeluruh. Beberapa Tokoh yang tergolong golongan generalis adalah Thomas Alfa Edison, Soekarno, Jack Welch, Hamka, Napoleon Bonaparte, Albert Einstein, dan Archimedes. Mereka memiliki kemampuan untuk berpikir tidak dalam dikotomi sebuah definisi. Pada umumnya mereka mampu menguasai segala bidang dengan cepat dan baik, bisa melihat kegunaan ilmu yang mereka pelajar, dan tidak merasakan barrier dari pembelajaran mereka disaat beberapa menganggap apa yang mereka lakukan tidak berguna. Kelemahannya, mereka pada umumnya orang-orang yang mudah sekali bosan, selalu bermain-main(dalam definisi mereka tentunya), dan cenderung otoriter(karena ia begitu mudah menguasai sesuatu, ia merasa yakin bahwa pendapatnyalah yang berasal dari intuisinyalah yang selalu benar. Apabila disuruh membuktikan kebenarannya ia yakin bahwa ia akan dengan mudah mendapatkan bukti kebenaran pendapatnya) . Mereka memiliki potensi yang sangat besar untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Profesi mereka pada umumnya adalah profesi yang membutuhkan kelihaian dan kecerdikan dalam mengatasi tekanan, seperti politikus, pengusaha, ilmuwan/analis, musisi, ahli pemasaran, presiden, artis, engineer, dan psikolog.

Selain  itu, terdapat juga golongan spesialis. Mereka adalah orang yang memiliki kemampuan belajar secara spesifik. Beberapa tokoh yang tergolong spesialis adalah David Beckham, Isaac Newton, Niels Bohr, Yngwie Malmsteen, Bill Gates, dll. Mereka mempunyai kemampuan untuk fokus dalam suatu bidang. Pada umumnya mereka adalah orang-orang yang kesulitan menguasai suatu bidang keilmuan. Mereka terkenal sulit untuk beradaptasi pada lingkungan sosialnya. Hanya saja ketika mereka berhasil menemukan bidang yang sesuai dengan keinginannya, mereka pasti bisa menjadi seseorang yang sangat ahli. Mereka memiliki kekuatan fokus yang sangat tinggi, dan hanya berbicara ketika topik pembicaraan yang mereka dengar sesuai dengan pemikirannya. Profesi yang pada umumnya sesuai dengan mereka adalah dokter (dokter spesialis), penemu/ilmuwan/peneliti, guru/dosen, akuntan, atlet, sekretaris, ahli bedah, koki, designer, dan photographer.

Nah, sekarang kenapa saat ini spesialis lebih dibutuhkan sebagai pemimpin. Penyebabnya adalah karena perubahan trend ekonomi saat ini yang terjadi di masyarakat. Yaitu bahwa kualitas suatu produk itu ditentukan dari spesialisasi brand tersebut. Ahli usaha di dunia berpendapat bahwa hal tersebut memberikan tuntutan pada perusahaan untuk fokus mengembangkan kelebihan perusahaan. Dalam hal ini, tentu saja CEO spesialis lebih dibutuhkan. Kekuatan mereka untuk fokus dalam melakukan pengembangan membuat produk menjadi terbaik untuk masyarakat. Namun apa benar generalis kurang sesuai lagi untuk memimpin perusahaan?

Seperti yang kukatakan pada bagian awal tadi, kecenderungan perusahaan untuk memilih CEO yang spesialis itu dilatarbelakangi berkurangnya jumlah CEO bertipe generalis. Hal ini sangat wajar sekali, karena kondisi saat ini membuat tipe generalis sulit berhasil. Perhatikan saja metode pendidikan saat ini, semuanya disusun secara spesifik. Ketika berada di jenjang SMA, kita dituntut lebih awal untuk memilih bidang apa yang ingin kita tekuni. Jenjang ini telah menjadi awal kemunduran kaum generalis. Mereka adalah orang-orang yang suka mengeksplorasi hal baru, sistem pendidikan seperti ini tentu akan membuat kaum generalis merasa tidak nyaman. Apabila mereka menyerah tentu mereka lebih memilih menjalankan bidang lainnya yang mereka sukai.

Begitu pula ketika masa kuliah. Pada awalnya kita sudah disuruh memilih jurusan yang sesuai dengan minat dan bakat kita. Hanya saja sistem ini kembali mendatangkan ketidaknyaman bagi kaum generalis. Akhirnya banyak dari mereka lebih memilih untuk menekuni bidang lain di luar perkuliahan. Berlanjut lagi ke tingkat pekerjaan, mereka semakin dituntut untuk menjadi spesialis. Mereka diwajibkan untuk menduduki posisi tertentu yang spesifik. Para spesialis yang tidak suka akan lebih memilih untuk memulai sebuah usaha mandiri atau berpindah pekerjaan. Sementara mereka yang bisa menerima akan menjadi kesulitan untuk maju menapaki jenjang karir karena mereka pasti akan kesulitan untuk melewati para spesialis yang memiliki kedalaman ilmu yang lebih dibanding mereka. Hasil akhirnya?? Tren sosial berubah dan sedikit sekali jumlah generalis yang berhasil menduduki jenjang pemimpin perusahaan.

Oleh karena, apapun tipe pembelajaran kita, spesialis atau generalis, tak perlu merasa kecewa atau bangga.  Tipe pembelajaran ini merupakan anugerah dari yang kuasa dan tak mungkin ditolak. Biasanya, dengan sendirinya kita akan mengetahui tipe kita. Tentang pemimpin perusahaan? Menurutku seorang pemimpin perusahaan yang bersifat generalis akan mampu mendobrak prediksi pasar dengan kemampuan yang mereka miliki. Logikanya, apabila terjadi evolusi hasilnya adalah penyempurnaan, namun apabila terjadi revolusi maka akibatnya adalah perubahan.

Kenali tipe pembelajaran yang sesuai dengan kita agar tidak salah dalam melakukan sesuatu.. Nah yang mana yang mewakili diri kita?

h1

Apa sih alasan orang memilih pemimpin?? vers.2

November 14, 2007

Akhirnya, pemimpin yang terpilih kokesma oleh para formatur adalah si tuan P. Ternyata masyarakat Indonesia saat ini cenderung lebih memilih figur daripada kualitas. Hal ini semakin menguatkan data mengenai kriteria seseoran dalam memilih pemimpin. Berikut kuberitahukan hasil pengamatanku selama mengikuti ajang pemilihan hingga kini :

Figur vs Kualitas 0-0

  1. Pemilihan ketua OSIS SMP yang diikuti (sekitar) 4 calon ketua. Hanya 2 calon yang bersaing ketat menjadi ketua yaitu R.o dan R.i R.i lebih memiliki kualitas dibanding R.o yang mengandalkan figur. Skor 0-1. Hasil : kinerja sebagai ketua OSIS dari R.i ternyata tidak secemerlang kinerja otaknya. Meskipun begitu, ia berhasil menduduki peringkat 1 ketika menjadi ketua OSIS. Sepertinya ia lebih berkonsentrasi di pelajaran daripada mengurusi OSIS.
  2. Pemilihan ketua OSIS SMA yang diikuti 5 calon ketua. Salah satu orang yang bersaing menjadi ketua OSIS ketika diriku di bangku SMP, tuan R.o,  maju sebagai salah satu calon bersaing bersama tuan R.e. Kali ini tuan R.o menunjukkan bahwa ia lebih berkualitas dibanding tuan R.e. Tuan R.o terpilih sebagai ketua OSIS. skor 0-2. Hasil : tuan R.o menunjukkan bahwa ia memang layak terpilih sebagai ketua OSIS. terbukti banyak keberhasilan yang ia capai. salut buat tuan R.o.
  3. Final AFI (Akademi Fantasi Indosiar) 1. 3 finalis berjuang menjadi pemenang ajang ini, yaitu Feri, Kia, dan (lupa namanya euy).. Hampir semua penonton tahu bahwa Kia lebih berkualitas dari Feri. Hasilnya?? Feri yang ternyata mampu mengikat hati rakyat Indonesia untuk menjadikannya pemenang AFI. skor 1-2. Hasil : Sepertinya karirnya tidak berkembang??
  4. Final AFI 2. 3 finalis berjuang menjadi pemenang, Tia, Haikal, dan Miki. Sulit untuk menentukan siapa yang lebih berkualitas. Secara power, Tia memiliki keunggulan dibanding lawannya. Secara orisinalitas warna suara dan gaya, Haikal lebih unggul. Tetapi secara teknik vokal, Miki yang terbaik. Komentar dari dewan juri memang menjurus bahwa Tia yang terbaik dibanding semua. Dan pemenangnya adalah Tia. Skor 1-3. Hasil : Tia beberapa kali muncul dalam show musikal.
  5. Final Indonesian Idol 1. Pertarungan antara Delon dan Joy. Penikmat Indonesian Idol pasti mengerti perbedaan kualitas keduanya. Pemenangnya tentu saja yang lebih berkualitas (Joy). skor 1-4. Hasil : Ko’ malah Delon yang masih eksis??
  6. Final Indonesian Idol 2. Pertarungan antara Mike dan Judika. Sumpah!! Jauh Judika lebih unggul!! Tapi ko’ Mike yang menang?? skor 2-4. Hasil : Mike? Kemana aja lo??
  7. Pemilihan presiden R.I fase 1. Harus diakui bahwa SBY bukan yang paling berkualitas diantara 5 calon yang lain. Akhirnya figur presiden yang gaul ketika berkampanye lah yang dipilih rakyat. skor 3-4. Hasil : Penduduk Indonesia pasti udah ngerasain seperti apa kinerja kepemimpinan SBY.
  8. Pemilihan ketua KM ITB 2006-2007. Ada 5 orang yang bersaing untuk dipilih. Dan pemenangnya adalah tuan D dengan karisma yang dimilikinya. skor 4-4. Hasil : Karisma saja tidak cukup untuk memimpin kampus terbaik di Indonesia.Dibutuhkan kemampuan intelektual yang baik, intuisi, kecerdikan, dan mental yang tangguh. Ketika lap.pertanggungjawaban hanya 20% programnya yang dinyatakan berhasil.
  9. Pemilihan Indonesian Idol 2. Jelas sekali Ihsan tidak layak menang!! Dirly jauh lebih memiliki kemampuan yang lebih baik. Dirly unggul sangat jauh sekali!! tapi ko’ Ihsan yang menang?? skor 5-4. Hasil : seperti yang kita bisa lihat di infontainment saat ini.
  10. Pemilihan presiden BG periode 2006-2007. 5 Calon bersaing menjadi pemimpin BG. Hasilnya?? Yang pemenang memang yang terbaik diantara mereka. Ia memiliki visi yang jelas, fokus yang kuat, dan integritas yang terjamin. skor 5-5. Hasil : Ia berhasil membawa BG meraup keuntungan hampir 20 juta selama periode ia memimpin.
  11. Pemilihan ketua KOKESMA 2006-2007. Aku menjamin bahwa orang yang terpilih ini sangat tidak layak sekali untuk menjadi ketua!! Ia murni merupakan orang yang menurutku hanya mengandalkan figurnya saja. Tidak terlihat otak cemerlang yang cerdik dan licik dari seorang pemimpin. skor: 6-5. Hasil :Omzet KOKESMA turun, salah satu event tahunan yang biasa diadakan KOKESMA gagal terlaksana.
  12. Pemilihan Presiden BG 2007-2008. Aku mengikutsertakan diri pada pemilihan ini. Ada 5 calon yang bersaing menjadi presiden yaitu An, Ag, Aku, D, T. An memiliki trek rekor yang cemerlang selama menjadi pengurus BG hanya saja ia kurang kreatif dan bermasalah dalam hal komunikasi (kesulitan menyampaikan pendapat yang dimengerti audiens). Ag sangat pintar secara akademis, sosok yang ramah bersahabat dan agamis, hanya saja ia sulit menolak amanah, kurang komitmen, dan kurang kreatif, serta sangat jarang memberi solusi yang tepat guna. D adalah seorang yang sangat analitis dan kritis, ia memiliki trek akademis yang luar biasa, dan fokus pada tujuannya. Sayangnya ia terlalu sering mengeluh, dan terlalu berhati-hati, serta tidak kreatif.T adalah seorang pekerja keras, ia memiliki kemampuan untuk bisa merangkul semua orang, dan dicintai oleh rekan-rekannya. Sayangnya ia ‘lemot’, sulit memberikan respon yang menghormati orang lain, dan kurang kreatif. Sementara aku?? Aku seorang yang kreatif, hidup dengan berbagai ide, berani, banyak relasi, mampu mengerjakan banyak hal dalam waktu yang berbarengan dan semuanya selesai, kemudian memiliki sifat memaksa yang positif. Kelemahanku terletak pada kebanyakan orang tidak kurang suka dengan caraku yang dianggap ekstrim dan egois, suka mengkritik orang lain, dan bukan orang ‘baik’. Untuk Pemilihan ini, aku masih bersukur bahwa pemenangnya masih merupakan orang yang menurutku tidak salah (bukan berarti tepat) yaitu saudara An. Tetapi yang kusayangkan adalah kebanyakan orang memilih tuan Ag yang notabene tidak layak menjadi pemimpin BG bagiku. skor 7-5. Hasil : sejauh ini belum jelas apa hasilnya karena baru dilantik.
  13. Pemilihan Ketua KM ITB 2007-2008. Kali ini persaingan antara si berkualitas dengan si figur kembali berlangsung. Namun kali ini pemenang adalah si berkualitas. Sejauh ini banyak perubahan dan perbaikan yang berhasil dilakukannya. Aku tidak tahu bagaimana kelanjutan kepengurusanny, tapi aku percaya bahwa ia pasti bisa memberikan hasil yang terbaik. skor 7-6. Hasil : belum layak dinilai.
  14. Pemilihan ketua KOKESMA ITB 2007-2008. Seperti yang kujelaskan diatas. Skor 8-6. Hasil : Belum layak dinilai.

Bagaimana? Jelas sekali bahwa semakin orang memilih tidak lagi berdasarkan kualitasnya, melainkan lebih kepada figur siapa orang tersebut. Bagaimana yah Indonesia pada masa depan nanti?

Wajar saja kalo hingga kini banyak sekali pengikut aliran-aliran sesat. Mereka hanya melihat figur pemimpin yang berkualitas saja sih.. Tidak melihat kualitas figur tersebut.. Mungkin benar kata cendekiawan, bahwa bangsa ini telah kehilangan sosok untuk diteladani. Bahkan mungkin hanya segelintir orang yang masih meneladani sosok tertentu seperti Nabi Muhammad S.A.W, atau tokoh-tokoh lainnya. Budaya seperti ‘tunjukkin diri lo’ sepertinya telah disalahartikan oleh masyarakat.

h1

The power of Community in Business, Real or Unreal??

November 10, 2007

Aku baru saja membaca majalah SWA dengan topik utama mengenai Community Marketing. Sebuah ulasan yang unik dan menarik mengenai perkembangan pemasaran sebuah produk usaha dengan memanfaatkan sebuah komunitas. Bentuk nyata dari perkembangan ini adalah Nokia Communicator Community (CC), komunitas pencinta Harley Davidson, kemudian Komunitas Honda Vario, dll. Memang, dalam sebuah aturan perdagangan, produk pasti mengedalikan dengan konsumen karena produk memang diciptakan untuk konsumen. Namun, kini perkembangan teknologi yang semakin pesat membuat konsumen sendiri yang kini menentukan produk apa yang mereka inginkan. Hal ini mendorong mereka untuk melakukan pengembangan terhadap produk yang telah ada bersama orang-orang yang memiliki visi sejenis. Sehingga akhirnya terbentuk suatu komunitas. Komunitas ini nantinya akan membuat pembuat prodduk mengetahui seperti apa kelemahan dari produk, sisi apa yang layak dikembangkan dari produk, dan tentunya pembeli setia dari produk.

Meskipun begitu, trend kehidupan yang semakin tidak menentu juga membuat seseorang cenderung untuk berkelompok. Jika dahulu seseorang mencari gengsi dengan menggunakan produk mahal, impor, atau eksklusif, kini hal tersebut sulit sekali untuk dilakukan. Hal ini disebabkan meningkatnya taraf kesejahteraan, dan pendidikan masyarakat Indonesia serta berkembangnya teknologi. Untuk mencari pelarian dari sebuah status bernama gengsi tersebut, masyarakat kini cenderung untuk membentuk sebuah komunitas yang berguna untuk sharing bersama orang-orang yang memiliki minat yang sama. Dengan bergabung pada komunitas tersebut, orang-orang tertentu akan merasakan meningkatnya derajat gengsi mereka di mata masyarakat. Trend sosial kini telah berubah, jika dahulu kekayaan lebih dipandang sebagai sebuah derajat, kini status lebih diutamakan sebagai sebuah derajat. Orang yang miskin sekalipun akan lebih dipandang jika ia merupakan kenalan presiden, atau seorang yang mempunyai image yang luar biasa di mata masyarakat.

Nah, kembali ke hal Community Marketing, apa sih sebenarnya keuntungan dari pola marketing yang memanfaatkan kecenderungan masyarakat berkomunitas? Menurutku, pola marketing ini sangat bermanfaat bagi produk-produk yang menonjolkan sisi emosional terhadap pelanggannya. Perhatikan hape komunikator dari Nokia, begitu jelas bahwa hape tersebut memberikan sisi emosional kepada penggunanya. Melalui fitur-fitur yang terdapat di dalamnya, para eksekutif dan pebisnis akan merasa sangat terbantu sekali apabila biasa memanfaatkannya. Mungkin seorang pengguna komunikator akan merasa “sakau” apabila seharian meninggalkan komunikatornya. Ingin memanfaatkan pemasaran menggunakan komunitas?? Tonjolkanlah sisi emosional dari produk anda.

Selain berperan dalam pengembangan produk dan penjualan perusahaan, komunitas juga berperan untuk meningkatkan brand image di mata masyarakat. Apalagi bila komunitas tersebut memiliki reputasi yang mentereng di mata masyarakat. Apabila brand image meningkat, maka produk tersebut memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk mengalami peningkatan volume penjualan. Tentunya ini berimbas pada volume penjualan perusahaan. Sayangnya, hal ini tak begitu diperhatikan oleh pelaku bisnis. Banyak yang berkata, dampak komunitas tidak begitu dirasakan oleh sebuah produk. Bahkan ada yang beranggapan komunitas bahkan cenderung menurunkan nilai sebuah perusahaan karena tingginya kemungkinan untuk melakukan tindakan yang mencoreng reputasi perusahaan. Yah.. Komunitas itu seperti kekasih, apabila kita menyayangi dan mencintai mereka, dan mereka menyadari itu, maka mereka akan memberikan hal yang serupa terhadap kita. Imbasnya peningkatan volume penjualan. Masalahnya, kebanyakan kita tidak menyayangi kekasih kita, atau kekasih kita tidak mengetahui bahwa kita mencintai dirinya, akhirnya mereka malah melakukan tindakan yang menyakiti hati kita. Seperti itulah komunitas..

Nah, apakah sebuah komunitas dirasa nyata pada dunia bisnis? Jawabnya tentu saja iya. Tetapi apakah manfaat komunitas tersebut dirasa nyata pada dunia bisnis? Masing-masing pelaku bisnis pasti punya jawaban yang berbeda-beda..

h1

Apa sih alasan orang memilih pemimpin??

November 7, 2007

Hari ini, aku bercakap bersama rekan bisnisku mengenai alasan seseorang memilih pemimpin. Kami membahas mengenai figur orang yang layak untuk memimpin sebuah badan dimana uang sekitar 30 Miliar rupiah setiap tahunnya berputar disana. Badan ini bernama KOKESMA ITB (Koperasi Kesejahteraan Mahasiswa ITB), yang kini sedang mengalami pergantian kepengurusan.

Kami berdua sepakat bahwa pemimpin sebelumnya bukanlah orang yang semestinya layak memimpin organisasi seperti ini. Kami berdua menyadari bahwa pemimpin KOKESMA yang terdahulu memang jago dalam memotivasi, pandai dalam mengumbar semangat kekeluargaan, serta memiliki kepribadian yang patut diteladani. Tetapi ia tidak memiliki sesuatu yang mutlak dibutuhkan seorang pemimpin berkualitas, Intuisi. Intuisi menurutku adalah sebuah loncatan pemikiran yang dimiliki seorang pemimpin yang biasanya keluar di saat2 yang tidak diperkirakan. Intuisi ini terbukti ketika seorang pemimpin membuat keputusan yang terkesan tidak logis namun begitu logis di matanya. Pemimpin ini murni kurang memiliki intuisi yang tajam dalam mengambil keputusan.

Nah, sekarang kembali dalam pemilihan ketua KOKESMA periode sekarang. 2 orang yang dicalonkan ini (sebut saja tuan H dan tuan P). Tuan H memiliki prestasi akademik yang begitu cemerlang. Ia tidak pernah sekalipun mendapakan indeks prestasi di bawah 3,5. Bahkan semester sebelumnya ia mendapatkan IP 4! Bandingkan dengan Tuan P yang IP 3 saja sudah sulit sekali. Namun, tuan P memiliki kepribadian yang menyenangkan bagi orang-orang di sekitarnya. Tetapi tuan H? Jangankan kepribadian, yang benci sepertinya banyak sekali!! Tetapi dalam hal manajemen waktu Tuan H begitu brilian. Lihat saja trek rekor kesibukannya. Ia aktif di Himpunan Mahasiswa (sangat aktif bahkan!), lalu di perkumpulan mahasiswa dari daerahnya, kemudian dia mengasisteni 2 buah praktikum di semester ini, dan terakhir tentu saja di KOKESMA ITB. Dan semuanya dikerjakan dengan sangat sempurna!! Sementara tuan P? Aku pernah mendengarnya berkeluh mengenai kesibukannya. Ia berkata, “gue pusing nih. Bayangin, minggu nih gue mesti ngurus sponsorship, tugas2 di KOKESMA, kuliah, belum lagi himpunan. Aarrgg.. pusing gue.” Terbayangkan gimana sulitnya ia mengatur diri?  Hanya saja tuan P selalu memegang jabatan penting di setiap kepanitiaan dan kepengurusan yang ia lalui, walaupun hasil kerjanya tidak sempurna. Sementara tuan H, temen-temennya saja sudah merasa jenuh apabila ia mulai mendominasi pembicaraan. Dan ia juga hanya memilih untuk menjabat di posisi-posisi yang menurutnya layak dijabatnya.

Sementara tuan H begitu perhitungan dengan uang, tuan P begitu bebas menyusun anggaran keuangannya sehingga terkadang sering mentraktir temen2nya. Kalau tuan H begitu tegas dan tangkas dalam memenangkan persaingan, sementara tuan P begitu bersahabat dan dicintai rekan-rekannya dalam mengerjakan sesuatu. Mereka berdua menurutku memiliki kapabilitas sebagai pemimpin.

Menurut pembaca, pemimpin seperti apakah yang sebaiknya dipilih?? Apakah seseorang yang memiliki otak yang brilian plus jiwa yang tegas sehingga bisa menyelesaikan masalah yang ada namun dibenci oleh rekan-rekannya seperti tuan H, atau seseorang yang biasa-biasa saja namun memiliki kemampuan komunikasi yang baik sehingga disukai oleh teman2nya sehingga ia berpikir ingin memajukan organisasi ini meskipun pada trek rekordnya selalu ada cacat atas hasil yang dicapainya yang baru dirasakan di kemudian hari nanti??

Apa sih alasan sebenarnya seseorang dalam memilih pemimpin??

h1

Sepakbola, Bisnis, dan Kekuasaan

November 3, 2007

_41749848_frankfurt_becks.jpg

Sepertinya seluruh masyarakat di seluruh dunia telah mengenal sebuah olahraga menggunakan kulit bundar bernama sepakbola. Tidak bisa disangkal bahwa sepakbola telah menjadi hal yang wajib diketahui oleh masyarakat di seluruh dunia. Sepakbola yang mulai dimainkan secara terformat sejak periode awal abad 20, kini telah sebegitu populernya sehingga baik laki-laki atau perempuan menjadi penikmat olahraga ini.

Perkembangan sepakbola membuat banyak elemen di sekitarnya ikut berkembang. Mulai dari pemain. Pada awal masa periode permainan sepakbola, olahraga ini hanya dianggap sebagai sebuah hobi dan kesenangan belaka. Pada tahun 1930, kompetisi sepakbola antar negara di seluruh dunia yang pertama diadakan. Pada masa ini, sepakbola mulai dianggap sebagai sebuah olahraga yang memberikan manfaat bagi pemainnya, baik dalam hal kesehatan maupun presetise. Berbagai negara yang telah mengenal sepakbola muali berlomba untuk membangun tim sepakbola yang kuat. Setelah sepakbola di seluruh dunia berkembang dan meluas, dibentuklah badan sepakbola negara yang mengatur persepakbolaan di seluruh dunia. Dikarenakan meningkatnya nilai profesionalisme, pemain sepakbola yang berkualitas dari berbagai penjuru dunia menjadi bermunculan. Mulai dari Giuseppe Meazza, Pele, Just Fontaine, Franz Beckenbauer, Johan Cruijff, Mario Kempes, kemudian the one and only “Diego Armando Maradona”.

Peningkatan kualitas persepakbolaan ini membuat aturan sepakbola menjadi semakin baik dan masyarakat semakin mencintai sepakbola. Hingga pada puncaknya, dimulai dari periode 80-90an, Sepakbola dianggap menjadi salah kepercayaan bagi masyarakat Italia. Penduduk Italia menjadikan sepakbola sebagai hal yang ditaati nomer 2 setelah agama. Namun, kemajuan pesat dari dunia sepakbola tidak membuat sepakbola terlepas dari masalah-masalah. Mulai dari mafia wasit, kerusuhan antar suporter, judi sepakbola, rasisme, dan penggunaan doping oleh pemain sepakbola. Namun seiring berjalannya waktu, Sepakbola mampu membuat masalah-masalah tersebut menjadi terkendali. Masalah tersebut tidak pernah hilang, hanya saja menjadi bumbu penyedap bagi sepekbola.

Perkembangan yang pesat dari sepakbola membuat mata para taipan-taipan dunia untuk membangun kerajaan bisnis sepakbola. Dimulai dari pembelian pemain dunia seperti Denilson, Ronaldo, Zinedine Zidane, Gianluigi Buffon, dll dengan harga yang bisa menghidupi satu kampung membuat nilai dari sepakbola meningkat drastis. Dilanjutkan dengan pembelian klub-klub langganan juara macam Manchester United, Chelsea, Liverpool, dll oleh para miliuner-miliuner kelas kakap. Hingga puncak dari hegemoni bisnis yaitu seorang megastar sepakbola bernama ‘David Beckham’ yang menjadikan dirinya sebagai aset paling berharga bagi dunai sepakbola. Baik sisi permainannya, maupun sisi bisnis. Dari sisi permainan, pemain ini telah memberikan kontribusi bagi dunia. Mungkin banyak pemain yang mampu mengalahkan keakuratan tendangan bebasnya, dribblenya, passingnya, headingnya, ataupun segala kemampuan sepakbola yang dimilkinya. Meskipun begitu, ia tetap berjuang keras dan memberikan kontribusi terbaik yang bisa diberikannya. Hingga seorang pelatih sekelas Fabio Capello pernah berkata dengan redaksi “keputusan terbodoh yang saya ambil dalam periode kepelatihan saya adalah menyetujui melepas David Beckham dari Real Madrid.”, ia juga bilang “Saat ini Beckham telah kembali ke bentuk permainannya seperti saat muda dulu, jika ia telah mencapai fase ini maka takkan ada pemain yang bisa menghentikannya.” Kemudian, pelatih yang membesarkan namanya yaitu Alex Ferguson sempat berucap (kira2 redaksinya) “Saya menyesal dahulu menjual David Beckham dari Man.U, andai ia dulu tidak terlalu sibuk dengan dunia keartisannya, dia pasti akan menjadi legenda Man.U”. Seorang George Best juga menyayangkan kepergian David Beckham, “Man.U telah melakukan keputusan yang keliru. Setidaknya untuk 3 tahun ke depan, mereka akan kesulitan untuk unggul di saat-saat akhir melalui kesempatan tendangan bebas, atau corner kick.”

Sementara dari sisi bisnis, David Beckham adalah aset yang telah telah memutarkan uang lebih dari 1 triliun poundsterling atas segala komoditas bisnis yang menggunakan brandnya. Bukti sukses keberadaan dirinya dari sisi bisnis adalah, meningkatnya pemasukan tahunan dari klub yang pernah dibelanya. Hingga akhirnya ke dua klub tersebut menduduki posisi klub terkaya di dunia ketika ia membela klub tersebut, yaitu Manchester United, dan Real Madrid. Terbukti pendapatan masing-masing klub menurun drastis karena penjualan dirinya. Untuk Manchester United butuh waktu 2-3 tahun untuk kembali meningkatkan pemasukan kasnya.

Diangkatnya David Beckham sebagai ikon bisnis sepakbola, semakin menegaskan bahwa sepakbola semakin menancapkan kukunya di dunia perbisnisan. Bukan tidak mungkin suatu saat nanti orang terkaya di dunia berasal dari lingkungan bisnis persepakbolaan. Hanya saja selalu ada efek samping. Yang namanya bisnis, entah kenapa selalu saja beriringan dengan yang namanya kekuasaan. Dimulai dari pemanfaatan sepakbola sebagai ajang untuk mencari popularitas seperti yang pernah dilakukan mantan PM Italia Silvio Berlusconi, atau mafia wasit yang melibatkan Juventus atas tindakan yang dilakukan wakil presiden klub untuk membayar wasit dalam rangka mengatur hasil akhir pertandingan agar Juventus tetap berkuasa di singgasana tampuk kekuasaan tertinggi di dunia Sepakbola.

Kasus sejenis kini tengah menimpa lingkungan PSSI. Ketua Umum PSSI yang bernama Nurdin Halid hingga kini masih belum mau meninggalkan bangku tertinggi di PSSI, padahal ia terjerat banyak pelanggaran aturan yang membuatnya tidak layak lagi menduduki jabatan ketua umum PSSI. Bahkan Wakil Presiden R.I Jusuf Kalla sampai menyuruhnya untuk berhenti dari jabatan ketua umum, ia masih saja enggan. Entah apa alasan Nurdin, yang jelas ini telah menjadi salah satu efek dari kemajuan sepakbola. Sepakbola yang dulunya hanya sebuah permainan rakyat, kemudian berevolusi menjadi bisnis akankah berevolusi menjadi ajang mencari tampuk kekuasaan dan popularitas? Sepakbola telah merasakan dampak perubahan paradigma menjadi paradigma bisnis,
apakah revolusi sepakbola menjadi sebuah tampuk kekuasaan akan menjadikan sepakbola seperti sebuah negara?? Seperti apakah dampak yang ditimbulkannya?? Let’s wait n see..